KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah kita panjatkan
kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan nikmat-Nya kepada kita,
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta salam selalu kita
curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kita dari zaman
jahiliyah menuju zaman Islamiyah.
Kami membuat makalah ini sebagai
bahan kajian bagi kita dalam mempelajari persepsi dan pengambilan keputusan individu.
Dan tidak lupa pula kami sampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu menyelesaikan makalah ini. Kami akui dengan penuh kesadaran
bahwa makalah ini banyak terdapat kekurangan dan kekhilafan. Oleh karena itu
kami sangat mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini. Atas
bantuannya, kami ucapkan terima kasih dan semoga makalah ini bermanfaat bagi
kita semua. Amin.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL............................................................................................I
KATA PENGANTAR...........................................................................................II
DAFTAR ISI.........................................................................................................III
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................1
A.
Latar Belakang....................................................................................................
1
B.
Rumusan Masalah...............................................................................................
1
C.
Tujuan.................................................................................................................
1
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................2
A.
Persepsi dan
pengambilan keputusan individual.................................................2
B.
Faktor yang
mempengaruhi persepsi...................................................................2
C.
Persepsi orang.....................................................................................................
2
D.
Tautan antara persepsi dan pengambilan keputusan individual........................4
E.
Bagaimana
keputusan hendaknya di ambil?.......................................................4
F.
Pengambilan
keputusan dalam organisasi........................................................... 5
G. Etika dalam pengambilan keputusan ...................................................................7
BAB III PENUTUP......................................................................................................... 8
KESIMPULAN...............................................................................................................
8
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................... .9
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Banyak
cara atau gaya dalam mengambil keputusan. Ada orang yang cenderung menghindari
masalah, ada juga yang berusaha memecahkan/ menyelesaikan masalah, bahkan ada
yang mencari-cari masalah. Pada prinsipnya, cara pengambilan keputusan mengacu
pada bagaimana seseorang mengolah informasi, apakah lebih dominan mengguanakan
pikirannya, ataukah dengan perasaaannya. Setelah semua informasi diperoleh
melalui fungsi persepsi, maka seseorang harus melakukan sesuatu dengan informasi.
Informasi tersebut harus diolah untuk memperoleh suatu kesimpulan guna
mengambil suatu keputusan.
Salah
satu cara untuk mengambil keputusan adalah dengan mempergunakan perasaan dan
persepsi. Perasaan disini bukan berarti emosi, melainkan dengan mempertimbangkan
dampak dari suatu keputusan terhadap diri sendiri atau orang lain.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa yang
dimaksud Persepsi dan pengambilan keputusan individual?
2.
Apa saja Faktor
yang mempengaruhi persepsi?
3.
Apa Persepsi
orang itu?
4.
Bagaimana Tautan antara persepsi dan pengambilan keputusan individual?
5.
Bagaimana
keputusan hendaknya di ambil?
6.
Bagaimana Pengambilan
keputusan dalam organisasi?
7.
Bagaimana Etika dalam pengambilan keputusan?
C.
TUJUAN
1.
Untuk
mengetahui persepsi dan pengambilan keputusan individual
2.
Untuk
mengetahui faktor yang mempengaruhi persepsi
3.
Agar
dapat mengetahui persepsi orang tua
4.
Untuk
mengetahui tautan antara persepsi dan
pengambilan keputusan individual
5.
Agar
dapat mengetahui bagaimana cara pengambilan keputusan
6.
Untuk
mengetahui bagaimana pengambilan keputusan dalam organisasi
7.
Agar
Dapat mengetahui etika dalam pengambilan keputusan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PERSEPSI
DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDUAL
Persepsi dapat didefinisikan sebaga suatu proses
yang ditempuh individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan-kesan
indera mereka agar memberikan makna bagi lingkungan mereka. Apa yang
dipersepsikan seseorang dapat berbeda dari kenyataan yang obyektif. Tidak harus
demikian, tetapi sering ada ketidaksepakatan.
Mengapa persepsi itu penting? Hal ini dikarenakan
perilaku orang-orang didasarkan pada persepsi mereka didasarkan pada apa
persepsi mereka mengenai apa realitas yang ada. Dunia seperti yang dipersepsikan
adalah dunia yang penting dari segi perilaku.
B.
FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI
1.
Pelaku Persepsi
Bila individu memandang satu objek dan mencoba untuk
menafsirkannya, penafsiran itu sangat dipengaruhi karakteristik pribadi dari
persepsi individu tersebut. Diantara karakteristik pribadi yang lebih relevan
yang mempengaruhi persepsi adalah sikap., motif, kepentingan atau minat,
pengalaman masa lalu, dan pengharapan (ekspetasi).
2.
Target (objek)
Karakteristik-karakteristik dari target yang akan
diamati dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan. Selain itu, target tidak
tidak dipandang secara terisolasi, hubungan target dengan latar belakangnya
mempengaruhi persepsi. Faktor pada objek antara lain adalah hal baru, gerakan,
bunyi, latar belakan dan kedekatan.
3.
Situasi
Penting bagi kita untuk melihat konteks objek dan
peristiwa .unsur lingkungan sangat mempengaruhi persepsi kita. Faktor yang
mempengaruhi situasi adalah waktu, keadaan/tempat kerja,keadaan sosial.
C.
PERSEPSI ORANG
1. Teori Atribusi
Persepsi kita terhadap orang berbeda dengan persepsi
kita terhadap benda mati.hal ini di karenakan benda mati tidak memiliki
keyakinan,motif,atau maksud.akibatnya apabila kita mengamati orang,kita
berusaha mengembangkan penjelasan-penjelasan mengapa mereka berperilaku dengan
cara=cara tertentu.oleh karena itu persepsi dan
penilaian kita terhadap tindakan seseorang akan cukup banyak dipengaruhi oleh
pengadaian. Pengandaian yang kita ambil mengenai keadaan internal orang itu.
Teori atribusi adalah untuk
mengembangkan penjelasan dari cara-cara kita menilai orang secara
berlainan,bergantung kepada makna apa yang kita hubungkan ke suatu perilaku
tertentu, pada dasarnya, teori tersebut menyarankan bahwa bila kita
mengamati prilaku seseorang
individu,kita berusaha menentukanapakah perilaku itu karena penyebab internal
ataukah eksternal. Penentu tersebut sebagian besar tergantung tiga faktor
a.
Kekhususan : apakah seorang
individu memperlihatkan perilaku-perilaku yang berlainan dalam situasi yang
berlainan.
b.
konsensus : jika semua orang yang menghadapi situasi
yang serupa bereaksi dengan cara yang sama.
c.
Konsistensi : apakah orang itu memberi reaksi dengan
cara yang sama dari waktu ke waktu.
Salah satu penemuan yang paling menarik
dari teori atribusi adalah bahwa ada kekeliruan atau prasangka yang menyimpang
teori atribusi. kecenderungan untuk meremehkan pengaruh faktor luar dan melebih-lebihkan faktor internal di sebut kekeliruan atribusi
mendasar.individu cenderung menghubungkan sekses mereka sendiri dengan faktor
internal sementara menyalahkan faktor eksternal atas kegagalan mereka. Hal ini
di sebut prasangka layanan diri (self serving bias). Jalan pintas yang sering
di gunakan dalam menilai orang lain
2. Persepsi selektif
Orang-orang secara selektif menafsirkan apa yang
mereka saksikan berdasarkan kepentingan,latar belakang,pengalaman,dan sikap.
Suatu contoh: lebih besar kecenderungan
anda melihat motor yang mirip motor anda Sendiri. Hal ini menunjukkan bagaimana kepentingan pribadi cukup
mempengaruhi masalah-masalah yang kita lihat.
3. Efek halo
Menarik suatu kesan umum mengenai seseorang individu
berdasarkan suatu karakteristik tunggal.
Gejala ini sering terjadi ketika mahasiswa menilai dosen merekan di
ruang kuliah. Jadi seorang dosen akan di nilai pendiam,banyak pengetahuan,
popular, tetapi gayanya kurang bersemangat,ia akan di nilai lebil rendah mengenai karakteristik yang
lain. Jelas, subyek-subyek membiarkan suatu ciri tunggal mempengaruhi seluruh kesan mereka dari orang-orang yang sedang dinilai.
4. Efek kontras
Evaluasi atas karakteristik seseorang yang di
pengaruhi oleh pembandingan dengan orang
lain yang baru saja di jumpai yang berperingkat lebih tinggi atau lebih rendah
pada karakteristik yang sama. Sebagai contoh: anda akan terlihat buruk apabila
beradu acting dengan anak-anak. Hal ini di karenakan penonton sangat mencintai
anak-anak . efek ini dapat memutar-balikkan persepsi. Reaksi kita terhadap satu
orang sering di pengaruhi oleh orang lain yang baru saja kita jumpai.
5. Proyeksi
Menghubungkan karakteristiknya sendiri ke orang
lain. Mudah untuk menilai orang lain jika mengasumsikan mereka serupa dengan
kita. Kecenderungan untuk menghubungkan karakteristik sendiri kepada orang
lain,dapat memutar balikkan persepsi yang di buat mengenai orang lain.
6. Berstereotipe
Menilai seseorang atas dasar persepsi seseorang
terhadap kelompok itu. Sebagai contoh: andaikan anda seorang pengusaha yang
sedang mencari seorang manajer. Anda mencari manajer yang suka bekerja keras
dan dapat mengatasi masalah dengan baik. Di
masa lalu anda memperoleh sukses yang besar ketika memperkerjakan
individu yang ikut dalam atletik ketika di
universitas. Lebih jauh, sejauh para atlet
itu suka bekerja keras dan dapat menangani masalah dengan baik
pengambilan stereotype ini memperbaiki pengambilan keputusan anda. Tentu saja
masalahnya apabila kita berstereotype secara tidak akurat.
D.
TAUTAN ANTARA PERSEPSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDUAL
Individu-individu dalam organisasi mengambil keputusan.
Yaitu, mereka membuat pilihan dari dua alternatif atau lebih. Oleh karena itu,
pengambilan keputusan individu merupakan
suatu bagian penting dalam perilaku organisasi. Tetapi bagaimana
individu-individu organisasi dalam
mengambil keputusan, dan kualitas dari pilihan
terakhir mereka, sebagian besar di pengaruhi oleh persepsi-persepsi mereka.
E.
BAGAIMANA KEPUTUSAN HENDAKNYA
DI AMBIL?
Proses pengambilan keputusan rasional
pengambil keputusan yang optimal harus rasional. Artinya dia membuat pilihan memaksimalkan
nilai yang konsisten dalam batas-batas tertentu. Pilihan dibuat mengikuti model pengambilan keputusan rasional. Langkah-langkah
dalam model pengambilan keputusan rasional:
1. tetapkan
masalah.
2. Identifikasikan kriteria keputusan.
3. Alokasikan bobot pada kriteria.
4. Kembangkan alternatif.
5. Evaluasilah alternatif.
6. Pililah alternatif terbaik.
Meningkatkan kreativitas dalam pengambilan keputusan , pengambilan
keputusan rasional membutuhkan kreativitas. Yakni menggabungkan gagasan dalam
satu cara yang unik atau untuk membuat asosiasi-asosiasi di antara
gagasan-gagasan.
Potensial kreatif
Kebanyakan orang mempunyai potensial
kreatif yang dapat mereka gunakan bila dikonfrontasikan dengan sebuah masalah dalam pengambilan
keputusan. Namun dalam melepas potensial itu, mereka harus keluar dari
kebiasaan psikologis yang kebiasaan dari kita terlibat didalamnya dan belajar
bagaimana berfikir tentang satu masalah dengan cara yang berlainan.
Metode untuk merangsang kreativitas
individual,tindakan yang sederhana dapat sangat berpengaruh untuk mengintruksi
seseorang menjadi kreatif dan menghindari pendekatan yang jelas terhadap satu
masalah menghasilkan gagasan yang lebih uni. Metode ini di namakan intruksi
langsung. Metode lain adalah penyusunan atribut. Dalam metode ini, pengambilan
keputusan mengisolasikan karakteristik dari alternatif tradisional. setiap
atribut utama dari alternatif selanjutnya pada gilirannya dipertimbangkan dan di ubah dalam setiap cara
yang mungkin. Tidak ada gagasan yang di tolak,betapun tampaknya lucu.
Kreatifitas juga dapat di sangsang oleh
praktik pemikiran lateral atau zing-zang. Dengan pemikiran lateral, para
individu menekankan pemikiran yang tidak
menekankan pada satu pola melainkan pada penyetrukturan pola. Pemikiran itu
tidak harus tepat setiap langkah.
Pemikiran itu secara sengaja menggunakan informasi yang acak atau tidak relevan guna membawa satu cara
baru untuk melihat suatu masalah.
F.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM ORGANISASI
a.
Rasionalitas terbatas
Kemampuan dari pikiran manusia untuk memformulasi dan
menyelesaikan masalah yang rumit itu terlalu kecil untuk memenuhi tuntutan bagi
rasionalitas penuh, para individu beroprasi
dalam keterbatasan rasionalitas. Mereka merancang model-model yang
disederhanakan yang menyuling cirri-ciri hakiki dari masalah-masalah tanpa
menangkap semua kerumitannya.selanjutnya para individu dapat berperilaku
rasional dalam batas-batas model yang sederhana.slah satu aspek yang lebih
menarik dari model rasionalitas terbatas itu adalah bahwa urutan di mana
alternatif-alternatif di pertimbangkan
bersifat kritis dalam menentukan alternatif mana yang di pilih.
b. Intuisi
Pengambilan keputusan intuisi, baru-baru ini mulai muncul dan mulai di
segani. Para pakar tidak lagi secara otomatis mengasumsikan penggunaan intuisi
untuk pengambil keputusan sebagai tak rasiona. Terdapat pengaku yang makin
berkembang bahwa analisis rasional terlalu di tekankan dan bahwa, pada
kasus-kasus tertentu , mengandalkan pada intuisi dapat memperbaiki pengambilan
keputusan. Pengambilan keputusan intuisi sebagai suatu proses tak sadar yang di
ciptakan dari dalam pengalaman yang
tersaring. Hasilnya adalah bahwa pengambilan keputusan intuisi dapat memutuskan
dengan cepat dengan informasi yang terbatas.intuisi ini tidak harus berjalan
secara tak tergantung dengan analisis rasional. Lebih lengkap keduanya saling
melengkapi.kemungkinan besar untuk orang menggunakan keputusan intuisi adalah
dalam delapan kondisi.
1.
Bila ada ketakpastian dalam tingkatan yang tinggi.
2.
Bila hanya sedikit preseden (sesuatu yang bisa di
jadikan teladan) untuk di ikuti.
3.
Bila variable-variabel kurang dapat di ramalkan
secara ilmiah
4.
Bila fakta terbatas
5.
Bila fakta tidak jelas menunjukkan jalan untuk di
ikuti
6.
Bila data analisis kurang berguna
7.
Bila ada beberapa penyelesaian alternative yang masuk akal untuk di pilih,
dengan argument yang baik untuk masing-masing
8.
Bila waktu terbatas dan ada tekanan untuk segera di
ambil keputusan yang tepat.
c.
Indentifikasi
masalah
Masalah-masalah yang tanpak cenderung memiliki
probabilitas terpilih yang lebih tinggi di bandingkan masalah-masalah yang
penting. Hal ini di karenakan dua hal:
1.
Mudah untuk mengenal
masalah-masalah yang tanpak.hal ini lebih mungkin menangkap perhatian pengambil
keputusan.ini menjelaskan mengapa pemerintah lebih memperhatikan kriminal dari
pada buta huruf.
2.
Perlu di ingat bahwa kita prihatin dengan
pengambilan keputusan dalam organisasi. Para pengambil keputusan ingin tampil
kompeten dan berada di puncak masalah.hal ini memotivasi mereka untuk
memusatkan perhatian yang tanpak bagi orang lain. Adalah dalam kepentingan
terbaik pengambil keputusan menyerang masalah-masalah lagi “high” bila kenerja
pengambilan keputusan itu kemudian di tinjau kembali, pengevaluasi lwbih
mungkin memberikan penilaian yang tinggi kepada seseorang yang secara agresif
menyerang masalah-masalah yang tanpak di banding kepada seseorang yang
tindakan-tindakannya kurang tanpak jelas.
d. Perkembangan alternative
Karena pengambilan keputusan jarang mencari sesuatu
pemecahan optimum, melainkan yang agak memuaskan, kami berharap untuk menemukan
satu penggunaan minimal atas kreatifitas dalam mencari alternatif-alternatif.
Pengambilan keputusan menghindari tugas-tugas sulit yang mempertimbangkan semua
faktor penting, menimbang relatif untung dan ruginya, serta mengkalkulasikan
nilai untuk masing-masing alternatif . pengambil keputusan mengambil langkah
kecil ke arah sasarannya. Dengan pengetahuan sifat komprehehsif dari seleksi
karena keputusan tak di ambil
selama-lamanya atau di tulis di atas batu, melainkan keputusan-keputusan di
ambil dan di buat lagi tanpa ada
habisnya dalam perbandingan kecil antara pilihan-pilihan yang sempit.
e.
Membuat pilihan
Untuk menghindari informasi yang selalu sarat, para
pengambil keputusan mengandalkan heuristic
atau jalan pintas penilaian dalam pengambilan keputusan.Ada dua katagori umum
heuristic yang masing-masing menciptakan bias dalam penilaian.
·
Heuristic
ketersediaan: kecenderungan bagi orang untuk mendasarkan informasi yang
sudah ada di tangan mereka.
·
Heuristic representatif : menilai kemungkinan dari
suatu kejadian dengan menarik analogi dan melihat situasi yang identik di mana
sebenarya tidak identik.
·
Peningkatan komitmem : suatu peningkatan komitmem
pada keputusan sebelumnya meskipun ada
informasi negative.
·
Membuat pilihan
·
Direktif :
orang yang menggunakan gaya direktif memiliki toleransi yang rendah terhadap
ambiguitas dan mencari rasionalitas. Tapi direktif mengambil keputusan yang di
ambil dengan cepat dan beroriaentasi jangka pendek
·
Analitik: tipe ini memiliki toloransi yang jauh
lebih besar terhadap ambigultas di banding pengambilan keputusan direktif.lebih
banyak informasi dan pertimbangan atas alternatif yang lebih banyak ketimbang
alternatif yang di gunakan tipe direktif
·
Konseptual: individu cenderung menjadi sangat luas
dalam pandangan mereka dan mempertimbangkan banyak alternatif. Orientasi mereka
jangka panjang dan mereka sangat baik dalam menentukan solusi yang kreatif.
·
Behavior:pengambil keputusan yang baik dengan yang
lain. Mereka memperhatikan kinerja dari orang lain dan bawahannya serta
reseptif terhadap usulan-usulan/ gaya manajer ini mengutamakan komunikasi dan
penerimaan. Kita perlu mengetahui bahwa latar belakang budaya dari pengambilan
keputusan besar dapat memberi pengaruh yang besar terhadap seleksi masalahnya,
kedalaman analisis, arti penting yang ditempatkan pada logika dan rasionalitas, atau apakah keputusan
organisasional hendaknya diambil secara otokratis oleh seorang menejer
individual atau secara kolektif dalam kelompok.
G.
ETIKA DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Tiga kriteria keputusan etis:
·
Utilarian : keputusan diambil atas dasar konsekuensi
mereka. Tujuan kriterianini adalah memberikan kebaikan yang terbesar untuk
jumlah yang terbesar. Pandangan ini cenderung mendominasi pengambilan keputusan
bisnis.
·
Hak : kriteria ini menekankan pada individu untuk
mengambil keputusan yang konsisten dengan kebebasan hak yang mendasar. Para individu
,separti hak berbicara dan hak untuk memperoleh pembelaan.
·
Keadilan:hal ini mensyaratkan individu untuk
mengenakan dan memperkuat aturan-aturan secara adil dan tidak berat sebelah
sehingga ada pembagian manfaat dan biaya yang pantas.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku-perilaku pengambilan keputusan
etis
·
Tahap-tahap perkembangan moral adalah suatu penilaian dari kapasitas seseorang untuk
menimbang secara moral. Makin tinggi perkembanggan moral seseorang, makin
kurang bergantung ia pada pangaruh-pengaruh luar dan,dari situ, akan makin
cenderung untuk berperilaku etis.
·
Tempat kedudukan kendali : karakteristik kepribadian
yang mengukur sejauh mana orang meyakini bahwa untuk peristiwa-peristiwa dalam
hidup mereka.
·
Lingkungan organisasional: merujuk pada persepsi
karyawan mengenai pengharapan organisasional. Apakah organisasi itu mendorong
perilaku yang etis atau tidak
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
Persepsi dapat didefinisikan sebaga suatu proses
yang ditempuh individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan-kesan
indera mereka agar memberikan makna bagi lingkungan mereka. Apa yang
dipersepsikan seseorang dapat berbeda dari kenyataan yang obyektif. Tidak harus
demikian, tetapi sering ada ketidaksepakatan
Faktor
perilaku persepsi diantaranya terdiri Perlaku persepsi, Target (objek), Situasi. Persepsi
orang terdiri dari tori atribusi, persepsi selektif, efek halo, efek kontras,
proyeksi dan Berstereotipe. Tautan antara persepsi dan pengambilan keputusan
individual yaitu Individu-individu dalam organisasi mengambil keputusan. Yaitu,
mereka membuat pilihan dari dua alternatif atau lebih.
Keputusan harus diambil diambil dengan melalui
beberapa langkah yaitu tetapkan masalah,
Identifikasikan kriteria keputusan, Alokasikan bobot pada criteria, Kembangkan
alternative, Evaluasilah alternative, Pililah alternatif terbaik.
Pengambilan keputusan dalam organisasi melalui
beberapa hal yaitu Rasionalitas terbatas, Intuisi, Indentifikasi masalah, Perkembangan alternative, Membuat
pilihan, Membuat pilihan. Etika dalam
pengambilan keputusan Lingkungan organisasional, Lingkungan organisasional,
Lingkungan organisasional.
DAFTAR PUSTAK
Suryabrata. S. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
2005
Tampubolon. Manahan. P. Perilaku
Keorganisaian Perspektif Organisasi Bisnis. Bogor : Ghalia Indonesia. 2008.
Komentar
Posting Komentar